✮13 - Hati yang terbang

- Heningnya malam tanpa suara namun ternyata mengalahkan rasa itu yang kembali datang dan belum usai berlalu lalang. -

Malam berganti pagi dan waktu terasa begitu cepat, pagi ini perasaanku belum beranjak total dari mimpi-mimpi itu, namun aku harus bergegas untuk pergi menjalankan tugas sebagai relawan.

Sore pun tiba, angin berhembus tenang dan tak lama seorang ibu paruh baya menghampiriku dengan wajah penuh sukacita,

"kakak redis ya? hallo kak anak saya juga disabilitas. Dia dari FIP dan sekarang lagi di dampingi kakak redis, tadi ibu lihat kakak berkomunikasi pake bahasa isyarat"

belum sempat untuk menanggapi, ibu itu terus melanjutkan ucapannya,

"ibu seneng banget lihat kakak berkomunikasi dan bisa bahasa isyarat dan ibu mau ngucapin banyak-banyak terima kasih untuk kakak-kakak redis, makasih ya udah mau dampingi. Ibu gak tau harus bilang terima kasih seperti apalagi, tapi dengan adanya kalian itu sangat membantu dan jujur ibu awalnya khawatir banget waktu anak ibu PKKMB takut dia minder atau bagaimana tapi pas tau ada kakak redis, hati ibu jauh lebih tenang. Ibu titip salam untuk semua kakak-kakak redis ya, terima kasih banyak kak"

Dari hal kecil hari ini aku belajar bahwa,
meskipun ucapan itu sederhana namun tidak semua orang bisa memberikannya dan dari hal itu pula aku merasa bisa menjadi seseorang yang lebih bermanfaat bagi orang lain.

Meskipun hingga saat ini aku belum bisa beranjak dari mimpi-mimpiku itu, tapi dengan adanya hari ini setidaknya aku tahu salah satu alasan aku harus tetap hidup hingga hari ini adalah untuk bisa menjadi salah satu bagian dari hati yang terbang.

Terima kasih Relawan Disabilitas sudah memberikan pelajaran tentang arti hidup, bangga mejadi bagian darimu!


Komentar

Postingan populer dari blog ini

✮12 - Segala yang di langitkan

✮14 - Kami yang tak sempat

✮2 - Dibawah terik Matahari